Laman

Jumat, 19 Agustus 2011

BELAJAR DARI KALIAN


Rasa gembira tiba-tiba menyeruak ketika ada sebuah tawaran untuk menemani jundi-jundi kecil merangkai kata, mengasah pena, mencipta makna. Untuk mengubah dunia dengan pena.
“Sebuah mimpiku akan terwujud lagi,”  gumamku. Mimipi untuk bisa belajar menulis bersama jundi-jundi kecil. Saling memotivasi untuk menulis. meningkatkan kualitas tulisan. Dan terus berlomba untuk menyampaikan kebaikan.
Sabtu, 6 Agustus 2011
Sebuah pertemuan yang sangat aku rindukan. Belum ada dibenakku bagaimana aku berbagi dengan mereka. Terbatas sekali aku dapatkan informasi dari mereka. Dengan berbekal secarik kertas yang ku corat-coret semalam, aku mencoba melangkah dengan pasti memasuki sekolah itu.
Satu hal yang terlintas di benakku. Mereka masih duduk di sekolah dasar. Kemungkingkinan besar, proses belajar menulis di sini masih mula sekali. Sehingga aku mempersiapkannya dengan hanya sebuah motivasi. Aku menganggap mereka masih terpaksa untuk masuk ke dalam ekstra ini. Atau ada keinginan tapi belum tahu apa-apa tentang dunia literasi.
Namun, betapa tercengangnya aku, ketika memasuki sebuah ruangan (perpustakaan sementara). Bidadari-bidadari kecil itu langsung berceloteh riang mengenai dunia literasi yang jauh diatas usia mereka. Beberapa tulisan mereka juga pamerkan. Jumlah koleksi buku bacaan mereka sebutkan. Dan penulis idola mereka sebutkan.
Aku benar-benar bingung harus menyampaikan materi apa. Materi yang telah aku siapkan, sudah mereka kuasai semua. Akhirnya kugunakan hari itu untuk menyelami pengetahuan dan pengalaman mereka di dunia literasi. Agar kedepannya aku bisa berbagi dengan mereka, apa yang belum mereka ketahui.
Dan akhirnya kulemparkan sebuah pertanyaan mengenai ‘tujuan menulis’ kepada mereka. Kudapatkan jawaban yang sangat beragam. Dari yang pengin terkenal, sampai yang hanya untuk menghilangkan stress. Yang aku sayangkan, mereka tidak menyebutkan satu tujuan yang berorientasi dunia akhirat itu.
Ya aku cukup memaklumi, semangat mereka untuk menggoreskan pena saja sudah menjadi sebuah prestasi tersendiri  bagi mereka. Tujuan bisa dilurukan seiring berjalannya waktu. Ketika mereka sudah memahami hakikiat jalan ini, mereka juga akan paham dengan sendirinya.
Aku mencoba untuk meluruskan tujuan mereka, yang bersifat duniawi itu. Karena tujuan sama dengan niat. Akan menjadi sia-sia jika dalam mengerjakan sesuatu tidak diniatkan sebagai ibadah kepada Allah, dengan tujuan untuk kebaikan. Balasan Allah tergantung dari niatnya. Apa tujuan kita, ya itu yang akan kita peroleh. Tujuan untuk menjadi terkenal, maka terkenal akan di dapatkan. Namun, jika diniatkan untuk ridho Allah, untuk kebaikan. insyaAllah ridhonya akan di dapat dan popularitas juga menjadi bonus.
“Bu...bu...saya punya ide..." celetuk gadis kecil yang dari tadi sibuk dengan bukunya. ntah menulis atau membaca.
Kami menghentikan diskusi dan memusatkan perhatian padanya.
"Ide apa?" tanyaku antusias.
          "Ide nulis tentang Bu Khusnul," ucapnya masih sedikit malu dan salah menyebut namaku. Teman di sampingnya mencoba membenarkannya.
Rasanya campur aduk. Antara senang, haru, bangga. Mereka semua benar-benar sudah memiliki jiwa penulis. Peka terhadap lingkungan. Mungkin dia terinspirasi dengan keadaanku yang kurang sempurna ini.
"Lho baru juga kenal beberapa menit. apa yang mau ditulis tentang Bu Khusnul?" tanyaku bersama guru pendamping dari sekolah itu.
“Ya, betapa mulianya Bu Khusnul,” jawabnya polos.
Ah....membuat hatiku tambah basah.
“Lho dari mana tahu kalau Bu Khusnul, mulia?” tanya guru pendamping dari sekolah.
Dia hanya menunduk, diam dan bingung untuk memberikan jawaban.
Waktu satu jam yang diberikan sekolah untuk kami, terasa begitu singkat.
“Dikasih PR, Bu!” pinta mereka. Waduh, semangat mereka luar biasa. Aku benar-benar malu dengan mereka. Aku yang belajar dari mereka. Bukan mereka yang belajar kepada aku.
Dan ketika pertemuan akan kututup. Mereka sedikit protes.
“Sepertinya, baru beberapa menit deh, Bu,” membuatku terheran-heran lagi. Ya bagaimana lagi. Mereka sudah dijemput. Pihak sekolah juga hanya memberika waktu sebatas itu.
“bagiku belajar bersama mereka, berjam-jam pun tidak akan pernah bosan. Semoga semangad mereka terus terjaga.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar